Identitas
Buku
Judul
Buku : Pokok – Pokok
Antropologi Budaya
Editor
: T.O. Ihromi
Penerbit
: Yayasan Obor
Indonesia
Kota
Terbit : Jakarta
Tahun
Terbit : Edisi Kesebelas, Oktober
2000
Tebal
Halaman : 229 Hal + xxvi
Identitas
Pengarang Buku
Prof.
Dr. T.O. Ihromi S.H., M.A., dilahirkan di Pematang Siantar 2 April 1930,
memperoleh gelar Sarjana Hukum dari Universitas Indonesia, gelar M.A, (dalam
Cultural Anthropology) dari Universitas Indonesia, dan gelar Doktor (dalam Ilmu
Hukum) dari Universitas Indonesia. Di samping jabatannya sebagai Guru besar
pada Fakultas Hukum UI beliau adalah Guru Besar Tidak Tetap pada Fakultas Ilmu
– Ilmu Sosial di UI.
Publikasinya
antara lain :
The
Status of Women and Family Planning in Indonesia (editor); Social and Cultural
Background of Concept of Women; Reflections on the Indonesian Scene; Beberapa
catatan mengenai Kedudukan Wanita dalam Hukum Adat Waris dalam Susunan keluarga
yang Parental; Antropologi dan Hukum Adat; Sistem Kekerabatan pada Suku Toraja
Sa’dan; Adat Perkawinan Toraja Sa’dan dan Tempatnya dalam Hukum Positif Masa
Kini; sebagai penyusun dari ; Laporan Penelitian mengenai Hukum Keluarga; Hukum Keluarga pada Empat
Kelompok Etnis di Jakarta; Peranan dan Kedudukan Wanita Indonesia (bersama Ny.
Maria Ulfah Subadio S.H.).
KATA
PENGANTAR
Buku
ini berisi tentang pokok pokok antropologi budaya dasar yang dikutip dari
beberapa buku oleh T.O. Ihromi. Buku ini dapat memberi gambaran secara umum
tentang antropologi dan secara khusus tentang antropologi budaya.
Dengan
book report ini diharapkan pembaca dapat memperoleh gambaran mengenai
kebudayaan manusia, mengenal berbagai kebudayaan manusia dan juga untuk
memperoleh pengertian mengenai latar belakang budaya dari perilaku manusia.
Sukabumi, Juni 2014
Penyusun
Tb. Yogie Mahardhisiwi
3051318083
DAFTAR
ISI
Identitas
Buku ................................................................................................ i
Identitas
Pengarang Buku ............................................................................ ii
Kata
Pengantar .............................................................................................. iii
Daftar
Isi ........................................................................................................ iv
Isi
Buku .......................................................................................................... 1
BAB
I Perkenalan dengan Antropologi ...................................................... 1
BAB
II Konsep Kebudayaan ....................................................................... 3
BAB
III Sejarah Latar Belakang Penelitian Etnologi ................................ 4
BAB
IV Teori dan Metoda Antropologi Budaya ....................................... 5
BAB
V Organisasi Sosial : Struktur Masyarakat ....................................... 6
BAB
VI Penelitian Lintas Budaya Mengenai Kepribadian ....................... 7
BAB
VII Antropologi Terapan .................................................................... 8
BAB
VIII Siklus Hidup ................................................................................. 9
BAB
IX Kerabat dan Bukan Kerabat ........................................................ 10
BAB
X Lukisan Anak – anak di Bali .......................................................... 12
BAB
XI Anak – anak dalam Keluarga ....................................................... 14
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 15
ISI
BUKU
BAB
I
Perkenalan
dengan Antropologi
Antropologi
secara harfiah dalam bahasa Yunani, antropos
berarti “manusia” dan logos berarti
“studi” jadi antropologi merupakan suatu disiplin yang berdasarkan rasa ingin
tahu yang tiada henti – hentinya tentang umat manusia.
Ilmu
antropologi berbeda dari disiplin – disiplin lain tentang manusia, ilmu
antropologi lebih luas ruang lingkupnya. Ilmu tersebut dimaksudkan sebagai ilmu
yang khusus dan mengamati segala jenis manusia dalam semua zaman tanpa terkecuali.
Suatu
segi yang menonjol dari ilmu antropologi ialah pendekatan secara menyeluruh
yang dilakukan terhadap manusia, kaum ahli antropologi mempelajari tidak hanya
bermacam jenis manusia, mereka juga mempelajari semua aspek dari pengalaman –
pengalaman manusia. Misalnya, dalam menulis tentang suatu kelompok manusia,
seorang ahli antropologi mungkin juga menggambarkan suatu bagian sejarah daerah
manusia itu, lingkungan hidup, cara hidup berkeluarga, pola pemukiman, sistem
politik dan ekonomi, agama, gaya kesenian dan berpakaian, segi – segi umum
bahasa dan sebagainya.
Antropologi
dapat digolongkan secara luas dalam dua bagian yakni antropologi fisik dan
budaya. Antropologi fisik mempunyai pertanyaan – pertanyaan mencolok yakni
pertama, tentang munculnya manusia dan perkembangannya dan kedua mengenai
bagaimana dan apa sebabnya manusia masa sekarang secara biologis berbeda.
Sedangkan antropologi budaya mencakup cara berlaku yang telah merupakan ciri
khas suatu bangsa atau masyarakat tertentu. Sehubungan dengan itu maka
kebudayaan terdiri dari hal – hal seperti bahasa, ilmu pengetahuan, hukum –
hukum, kepercayaan agama, kegemaran makanan tertentu, music, kebiasaan
pekerjaan, larangan – larangan dan sebagainya.
BAB
II
Konsep
Kebudayaan
Bila
kita memperhatikan suatu masyarakat, maka dapat dilihat bahwa para warganya,
walaupun mempunyai sifat – sifat individual yang berbeda, akan memberi reaksi
yang sama pada gejala – gejala tertentu. Sebab dari reaksi yang sama itu adalah
karena mereka memiliki sikap – sikap umum yang sama, nilai – nilai yang sama
dan perilaku yang sama. Hal – hal yang dimiliki bersama itulah yang dalam
antropologi budaya dinamakan kebudayaan.
Kebudayaan
merujuk kepada berbagai aspek kehidupan yang meliputi cara – cara berlaku,
kepercayaan – kepercayaan dan sikap – sikap, dan juga hasil dari kegiatan
manusia yang khas untuk masyarakat atau kelompok tertentu. Kita masing – masing
dilahirkan ke dalam suatu kebudayaan yang bersifat kompleks dan kebudayaan itu
kuat sekali pengaruhnya terhadap cara hidup serta cara berlaku yang akan kita
ikuti selama hidup kita.
Dalam
masyarakat di samping terdapat pola – pola budaya yang nyata – nyata merupakan
kebiasaan, juga terdapat pola – pola budaya ideal, yaitu hal – hal yang menurut
warga masyarakat harus dilakukan, atau norma – norma. Dalam kenyataannya norma
dalam banyak hal tidak sesuai dengan perilaku aktual.
BAB
III
Sejarah
Latar Belakang Penelitian Etnologi
Laporan
etnografi didapatkan dari berbagai sumber. Umpamanya, kita mempunyai naskah
deskriptif dari India yang ditulis oleh peziarah – peziarah Buddhis dari Cina
yang dibuat pada Abad kelima dan juga naskah – naskah oleh ahli – ahli Islam
dari Timur Tengah yang berkunjung ke India kira – kira dalam abad kesepuluh.
Perkembangan yang tidak berkaitan dari pelukisan etnografi di berbagai bagian
dunia dapat dimengerti adalah wajar, bahwa seorang musafir yang bertemu dengan
orang – orang asing yang mempunyai ciri – ciri yang berlainan, pakaian, bahasa
dan adat istiadat lain, mencatat pengalaman – pengalamannya untuk dimanfaatkan
oleh orang – orang di negerinya.
Tulisan
– tulisan yang dikutip berasal dari jaman beberapa abad Sebelum Masehi sampai
abad kesembilan belas dan tokoh – tokoh yang antara lain disebut adalah
Herodotus (Yunani) yang telah menulis tentang Mesir kuno. Tacitus (orang
Romawi) yang telah menulis tentang kaum biadab di Eropa Utara. Disinggung juga
tentang seorang sarjana Islam yang menonjol, Ibnu Khaldun.
BAB
IV
Teori
dan Metoda Antropologi Budaya
Sejak
100 tahun yang lampau, para peminat mengenai kebudayaan dan masyarakat lain
sadar bahwa jika mereka mau menghasilkan karya yang bernilai ilmiah, maka
mereka melakukannya secara sistematis dan melalui observasi yang tidak berat
sebelah seperti yang dilakukan oleh ilmuwan – ilmuwan di bidang lainnya. Dengan
kata lain, para ahli antropologi mulai melaksanakan penelitian lapangan.
Sebelum
mengadakan penelitian lapangan, seorang ahli antropologi tentu sudah mempunyai
gambaran mengenai hal – hal apa yang hendak dipelajarinya. Pandangannya
mengenai pokok yang akan ditelitinya, tidak pernah bersifat netral, tetapi
selalu dipengaruhi oleh orientasi teori yang dianutnya. Telah banyak sekali
teori – teori yang dihasilkan oleh berbagai ahli antropologi dan para pemikir
pada umumnya, yang mengendalikan penjelasan – penjelasan tertentu mengenai
gejala – gejala budaya.
Jenis
– jenis penelitian dalam antropologi budaya dapat diklasifikasikan menurut dua
kriteria : 1) Menurut cakupan “ruang” dari penelitian itu yaitu analisa dari
satu masyarakat saja, analisa dari beberapa masyarakat dalam satu kawasan atau
analisa dari suatu sampel masyarakat seluruh dunia. 2) menurut cakupan waktu
yaitu penelitian sejarah dan yang bukan sejarah.
BAB
V
Organisasi
Sosial :
Struktur
Masyarakat
Organisasi
sosial mencakup pranata – pranata yang menentukan kedudukan lelaki dan
perempuan dalam masyarakat dan dengan demikian menyalurkan hubungan pribadi
mereka. Kategori ini pada umumnya dibagi lagi dalam dua jenis atau tingkat
pranata – pranata, yaitu pranata yang tumbuh dari hubungan kekerabatan dan
pranata yang merupakan hasil dari ikatan antara perorangan berdasarkan
keinginan sendiri. Struktur – struktur kekerabatan mencakup keluarga dan bentuk
kelompok yang merupakan perluasan keluarga seperti suku atau klan. Ikatan di
antara orang yang bukan kerabat melahirkan banyak macam bentuk pengelompokkan
mulai dari persaudaraan sedarah dan persahabatan yang dilembagakan sampai ke berbagai
macam perkumpulan rahasia dan bukan rahasia.
BAB
VI
Penelitian
Lintas Budaya Mengenai
Kepribadian
Seorang
ahli antropologi percaya, bahwa para warga dari suatu masyarakat yang sedang
dipelajarinya, memiliki ciri – ciri kepribadian bersama, yaitu apa yang dikenal
dalam antropologi budaya sebagai jenis kepribadian dasar, basic personality structure, atau kepribadian rata – rata, modal personality.
Dalam
mengamati perilaku, berguna sekali untuk mengingat bagaimanakah perilaku warga
masyarakat lain dalam keadaan yang sama. Dengan demikian akan terlihat perbedaan yang mencolok. Dimana
diadakan perbandingan antara tingkah laku anak – anak Bali dengan anak – anak
latmul. Anak Bali dihadiahkan sebuah boneka dan begitupun anak latmul. Anak
Bali itu tidak bersedia menerima boneka itu, ibu dari anak itu menggunakan
boneka itu untuk memperolok anaknya dengan seolah – olah menyusukan anak itu,
dan tindakan itu menimbulkan rasa cemburu pada anak tadi. Sedangkan anak latmul
dengan tenang bermain – main dengan boneka di samping ibu mereka dan ibu mereka
tidak mengolok – olok anaknya.
Dari
perbandingan diatas nampak perbedaan atas perilaku anak – anak yang sesuai
dengan pola khas – khas yang terdapat dalam kebudayaan itu.
BAB
VII
Antropologi
Terapan
Dalam
ilmu antropologi budaya sebagai ilmu murni yang hendak dikejar adalah bagaimana
dapat memahami gejala – gejala budaya, bagaimana menemukan penjelasan mengenai
variasi – variasi yang ada dalam pola budaya manusia di berbagai pelosok dunia.
Untuk itu telah berkembang sejumlah teori dan dalam penelitian lapangan
berbagai teori diuji. Kemudian sebagian para ahli antropologi juga yakin bahwa
akhir – akhirnya dapat juga dirumuskan beberapa keteraturan, yang menyerupai
hukum, yang menguasai kebudayaan.
Di samping menjadi ilmu
murni, hasil – hasil dari ilmu ini juga hendak diterapkan, yaitu untuk
digunakan dalam pemecahan masalah – masalah yang dihadapi oleh manusia.
Kode etik dalam
antropologi terapan muncul dari pemikiran para ahli antropologi karena menurut
mereka dengan berkembangnya ilmu antropologi, teknologi yang makin maju dan
segi negative dan positif yang secara potensial akan mengakibatkan perubahan
berarti pada mereka atau merusak kebiasaan pada mereka.
BAB
VIII
Siklus
Hidup
Kehidupan
warga Padju Epat adalah salah satu gambaran siklus hidup atau lingkaran hidup.
Seorang individu mempunyai peranan – peranan dalam suatu kebudayaan, upacara –
upacara yang khas dalam kebudayaan itu, dari kedua hal tersebut tampak
menggambarkan organisasi sosial.
Cara
pertanian orang Padju Epat adalah berkebun atau berladang secara bergilir.
Mereka tidak mengenal pertanian sawah. Sesudah sebidang tanah dibuka dan
kemudian dikerjakan, maka sesudah beberapa kali panen padi, ladang itu
ditinggalkan. Beberapa tahun kemudian, sesudah tanah tersebut sudah dianggap
cukup subur, kemudian dikerjakan lagi.
Jenis
kelompok – kelompok kekerabatan yang ada, cara pemukiman memiliki sifat – sifat
khasnya sendiri. Dalam karangan yang terlampir, istilah – istilah setempat
digunakan untuk menunjuk kepada kelompok – kelompok kekerabatan yang ada dan
disini penjelasan mengenai kelompok – kelompok itu akan disarikan dari buku Padju Epat.
Kelompok
kekerabatan yang terkecil yang dalam istilah antropologi budaya biasa dinamakan
keluarga inti atau keluarga nuklir dapat disamakan dengan apa yang disini
dinamakan keluarga dangau. Dangau adalah pondok, atau rumah ladang yang
terletak di dekat ladang yang dikerjakan oleh suatu keluarga dan yang menjadi
sumber utama dari penghasilan mereka.
BAB
IX
Kerabat
dan Bukan Kerabat
Berdasarkan
penelitian T.O. Ihromi yang telah dilakukan di Tapanuli dan Sumatra Utara dalam
hubungan dengan proses penyesuaian yang dialami oleh orang Batak Toba ketika
berimigrasi dari daerah asalnya ke kota besar. Dalam situasi yang baru di kota
Medan, orang Batak Toba harus menempatkan dirinya dalam suatu tatanan baru. Di
desanya dia hanya berhubungan dengan orang asal satu suku dengan dia, dan
kecuali beberapa stereotrip mengenai golongan etnis lainnya seperti stereotip
mengenai orang Jawa, orang Minangkabau dan lainnya. Dia tidak mempunyai
pengalaman bergaul dengan orang bukan orang Batak. Dalam situasi kota suatu
sistem kategorisasi yang bermakna bagi orang Batak Toba itu perlu dibinanya,
dan yang terjadi adalah membedakan semua orang dalam kelompok yaitu “orang
kita” dan “bukan orang kita”. Orang kita yaitu orang Batak Toba, secara potensial
adalah kaum kerabat, sehingga dua kelompok besar itu adalah orang – orang yang
mempunyai hubungan kerabat dan mereka di luar itu yang tidak ada kaitan kerabat
dengan orang Batak Toba.
Semua
orang Batak Toba membubuhkan nama marga bapanya di belakang nama kecilnya.
Marga adalah kelompok kekerabatan yang meliputi orang – orang yang mempunyai
kakek bersama, atau yang percaya bahwa mereka adalah keturunan dari seorang
kakek bersama menurut perhitungan garis patrilinieal (kebapaan). Anggota dari
satu marga dilarang kawin; marga adalah kelompok yang eksogam. Jadi semua orang
yang semarga adalah orang yang berkerabat dan dengan orang lain marganya dapat
dicari juga kaitan kekerabatannya. Orang luar atau bukan kerabat dipersepsikan
sebagai suatu golongan besar yang tidak dibeda – bedakan, sehubungan dengan
pengalaman – pengalaman pergaulan sosial, hubungan pekerjaan dan hal – hal lain
yang dapat dianggap sebagai salah satu indikator dari derajat kemodernan lambat
laun mengalami penghalusan dan satuan besar yang tadinya kabur itu disadari
oleh orang Batak Toba sebagai golongan – golongan yang berbeda – beda.
BAB
X
Lukisan
Anak – anak di Bali
Kesenian
Bali memiliki corak dan wataknya sendiri. Seniman – senimannya banyak dan
karyanya banyak. Sifat mereka sangat menonjol karena kesabarannya dan efisien
dalam keahliannya dan sangat setia kepada tradisi kesenian di tempatnya.
Berbeda dengan seniman – seniman barat mereka kelihatannya mencoba menghasilkan
karya yang sejauh mungkin sesuai dengan pola – pola yang juga dipergunakan
sesame seniman. Sifat khas dari seorang seniman tidak diutamakan, sebagaimana
halnya pada seniman Barat, malah mereka menekankan justru yang sebaliknya.
Kalau misalnya ada karya yang menampilkan citra yang luar biasa, hal yang
sangat orisinil, maka kelihatannya hal tersebut terjadi karena sang seniman
tersebut memiliki bakat yang luar biasa. Hal tersebut terjadi bukan akibat
kesengajaan, tetapi malahan masih muncul walaupun si seniman telah berusaha
untuk menghasilkan karya yang serupa dengan karya – karya orang lain. Dalam
semua aspek seni rupa di Bali, seni lukis, seni ukir, dalam merencakanan gambar
wayang untuk wayang kulit dan mengukir topeng – topeng, keserupaan dengan
bentuk tradisional sangat jelas tampaknya.
T.O.
Ihromi mengumpulkan 20 orang anak laki – laki di Bali yang berumur antara 3
sampai 10 tahun. Anak – anak itu sengaja dikumpulkan diberi alat – alat melukis
dan disuruh melukis pada saat mereka ingin melakukannya. Anak – anak itu
penghuni desa Sajan, kabupaten Gianyar. Anak di Bali sejak kecil sudah
tergantung pada kondisi kebudayaannya, dia mempelajari arti dari lambang –
lambang kebudayaannya, dia belajar untuk membiasakan sikap yang khas terhadap
kesenian. Bila telah menjadi dewasa maka dia akan menjadi seorang Bali yang
menghasilkan karya kesenian dan menjadi peminat yang menghargai kesenian,
karena di Bali, kesenian bukanlah urusan dari beberapa gelintir orang saja,
melainkan menjadi milik setiap orang.
BAB
XI
Anak
– anak dalam Keluarga
James T. Siegel
mengamati mengenai cara seorang anak dibesarkan di desa yang terdapat di Aceh
dan gagasan – gagasan yang berbeda mengenai bagaimana membesarkan anak laki –
laki dan anak perempuan. Salah satu contoh
hasil yang didapat dari penelitiannya adalah menjelang masa pubertas
anak laki – laki hanya ada dirumah jika ada sesuatu yang perlu dilakukan,
seperti makan, ganti pakaian atau kalau mereka dibutuhkan untuk suatu pekerjaan
tertentu. Sama seperti bapa, mereka juga tidak pernah terlalu lama berada di
rumah. Sebelum akil balig, anak laki – laki tidak mempunyai tugas rumah tangga.
Tetapi kalau sudah dewasa, ibunya dapat memintanya ikut membajak atau melakukan
pekerjaan lain yang biasanya merupakan tugas pria.
Sedangkan
di pihak perempuan. Masa peralihan dari anak perempuan menjadi wanita dewasa
tidak ditandai oleh tahapan yang sama. Anak perempuan juga belajar membaca
Qur’an dan padanya diajarkan ritus – ritus yang kemudian hari diperlukan pada
waktu mereka mendapat haid dan setelah hubungan kelamin, tetapi latihan yang
mereka jalani tidak terlalu ketat sifatnya. Latihan mereka mulai pada usia yang
lebih tua, yaitu kira – kira pada umur 8 tahun. Pelajaran agama bagi mereka
tidak diberikan di bangunan yang khusus tetapi di rumah salah seorang wanita yang
mampu mengajar mereka.
DAFTAR PUSTAKA
Ihromi,
T.O. (2000). Pokok Pokok Antropologi
Budaya. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia






How To Win at Casino Gambling | Expert Guide
ReplyDeleteYou can find a range of the different 인천휴게텔 casino games you can 탱글다희 정지 enjoy 돈포차 online. With an 아트그라비아장주님 extensive range of games 모바일 벳 365 to choose from and a multitude of bonus options