Sunday, June 29, 2014

Book Report "Pokok - Pokok Antropologi Budaya"

Identitas Buku

Judul Buku                  : Pokok – Pokok Antropologi Budaya
Editor                          : T.O. Ihromi
Penerbit                       : Yayasan Obor Indonesia
Kota Terbit                  : Jakarta
Tahun Terbit                : Edisi Kesebelas, Oktober 2000
Tebal Halaman            : 229 Hal + xxvi















Identitas Pengarang Buku

            Prof. Dr. T.O. Ihromi S.H., M.A., dilahirkan di Pematang Siantar 2 April 1930, memperoleh gelar Sarjana Hukum dari Universitas Indonesia, gelar M.A, (dalam Cultural Anthropology) dari Universitas Indonesia, dan gelar Doktor (dalam Ilmu Hukum) dari Universitas Indonesia. Di samping jabatannya sebagai Guru besar pada Fakultas Hukum UI beliau adalah Guru Besar Tidak Tetap pada Fakultas Ilmu – Ilmu Sosial di UI.
            Publikasinya antara lain :
The Status of Women and Family Planning in Indonesia (editor); Social and Cultural Background of Concept of Women; Reflections on the Indonesian Scene; Beberapa catatan mengenai Kedudukan Wanita dalam Hukum Adat Waris dalam Susunan keluarga yang Parental; Antropologi dan Hukum Adat; Sistem Kekerabatan pada Suku Toraja Sa’dan; Adat Perkawinan Toraja Sa’dan dan Tempatnya dalam Hukum Positif Masa Kini; sebagai penyusun dari ; Laporan Penelitian mengenai Hukum Keluarga; Hukum Keluarga pada Empat Kelompok Etnis di Jakarta; Peranan dan Kedudukan Wanita Indonesia (bersama Ny. Maria Ulfah Subadio S.H.).





KATA PENGANTAR
            Buku ini berisi tentang pokok pokok antropologi budaya dasar yang dikutip dari beberapa buku oleh T.O. Ihromi. Buku ini dapat memberi gambaran secara umum tentang antropologi dan secara khusus tentang antropologi budaya.
            Dengan book report ini diharapkan pembaca dapat memperoleh gambaran mengenai kebudayaan manusia, mengenal berbagai kebudayaan manusia dan juga untuk memperoleh pengertian mengenai latar belakang budaya dari perilaku manusia.








Sukabumi, Juni 2014
Penyusun


Tb. Yogie Mahardhisiwi
                                                                                                                3051318083

DAFTAR ISI

Identitas Buku ................................................................................................ i
Identitas Pengarang Buku ............................................................................ ii
Kata Pengantar .............................................................................................. iii
Daftar Isi ........................................................................................................ iv
Isi Buku .......................................................................................................... 1
BAB I Perkenalan dengan Antropologi ...................................................... 1
BAB II Konsep Kebudayaan ....................................................................... 3
BAB III Sejarah Latar Belakang Penelitian Etnologi ................................ 4
BAB IV Teori dan Metoda Antropologi Budaya ....................................... 5
BAB V Organisasi Sosial : Struktur Masyarakat ....................................... 6
BAB VI Penelitian Lintas Budaya Mengenai Kepribadian ....................... 7
BAB VII Antropologi Terapan .................................................................... 8
BAB VIII Siklus Hidup ................................................................................. 9
BAB IX Kerabat dan Bukan Kerabat ........................................................ 10
BAB X Lukisan Anak – anak di Bali .......................................................... 12
BAB XI Anak – anak dalam Keluarga ....................................................... 14
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 15



ISI BUKU
BAB I
Perkenalan dengan Antropologi
            Antropologi secara harfiah dalam bahasa Yunani, antropos berarti “manusia” dan logos berarti “studi” jadi antropologi merupakan suatu disiplin yang berdasarkan rasa ingin tahu yang tiada henti – hentinya tentang umat manusia.
            Ilmu antropologi berbeda dari disiplin – disiplin lain tentang manusia, ilmu antropologi lebih luas ruang lingkupnya. Ilmu tersebut dimaksudkan sebagai ilmu yang khusus dan mengamati segala jenis manusia dalam semua zaman tanpa terkecuali.
            Suatu segi yang menonjol dari ilmu antropologi ialah pendekatan secara menyeluruh yang dilakukan terhadap manusia, kaum ahli antropologi mempelajari tidak hanya bermacam jenis manusia, mereka juga mempelajari semua aspek dari pengalaman – pengalaman manusia. Misalnya, dalam menulis tentang suatu kelompok manusia, seorang ahli antropologi mungkin juga menggambarkan suatu bagian sejarah daerah manusia itu, lingkungan hidup, cara hidup berkeluarga, pola pemukiman, sistem politik dan ekonomi, agama, gaya kesenian dan berpakaian, segi – segi umum bahasa dan sebagainya.
            Antropologi dapat digolongkan secara luas dalam dua bagian yakni antropologi fisik dan budaya. Antropologi fisik mempunyai pertanyaan – pertanyaan mencolok yakni pertama, tentang munculnya manusia dan perkembangannya dan kedua mengenai bagaimana dan apa sebabnya manusia masa sekarang secara biologis berbeda. Sedangkan antropologi budaya mencakup cara berlaku yang telah merupakan ciri khas suatu bangsa atau masyarakat tertentu. Sehubungan dengan itu maka kebudayaan terdiri dari hal – hal seperti bahasa, ilmu pengetahuan, hukum – hukum, kepercayaan agama, kegemaran makanan tertentu, music, kebiasaan pekerjaan, larangan – larangan dan sebagainya.

















BAB II
Konsep Kebudayaan
            Bila kita memperhatikan suatu masyarakat, maka dapat dilihat bahwa para warganya, walaupun mempunyai sifat – sifat individual yang berbeda, akan memberi reaksi yang sama pada gejala – gejala tertentu. Sebab dari reaksi yang sama itu adalah karena mereka memiliki sikap – sikap umum yang sama, nilai – nilai yang sama dan perilaku yang sama. Hal – hal yang dimiliki bersama itulah yang dalam antropologi budaya dinamakan kebudayaan.
            Kebudayaan merujuk kepada berbagai aspek kehidupan yang meliputi cara – cara berlaku, kepercayaan – kepercayaan dan sikap – sikap, dan juga hasil dari kegiatan manusia yang khas untuk masyarakat atau kelompok tertentu. Kita masing – masing dilahirkan ke dalam suatu kebudayaan yang bersifat kompleks dan kebudayaan itu kuat sekali pengaruhnya terhadap cara hidup serta cara berlaku yang akan kita ikuti selama hidup kita.
            Dalam masyarakat di samping terdapat pola – pola budaya yang nyata – nyata merupakan kebiasaan, juga terdapat pola – pola budaya ideal, yaitu hal – hal yang menurut warga masyarakat harus dilakukan, atau norma – norma. Dalam kenyataannya norma dalam banyak hal tidak sesuai dengan perilaku aktual.





BAB III
Sejarah Latar Belakang Penelitian Etnologi
            Laporan etnografi didapatkan dari berbagai sumber. Umpamanya, kita mempunyai naskah deskriptif dari India yang ditulis oleh peziarah – peziarah Buddhis dari Cina yang dibuat pada Abad kelima dan juga naskah – naskah oleh ahli – ahli Islam dari Timur Tengah yang berkunjung ke India kira – kira dalam abad kesepuluh. Perkembangan yang tidak berkaitan dari pelukisan etnografi di berbagai bagian dunia dapat dimengerti adalah wajar, bahwa seorang musafir yang bertemu dengan orang – orang asing yang mempunyai ciri – ciri yang berlainan, pakaian, bahasa dan adat istiadat lain, mencatat pengalaman – pengalamannya untuk dimanfaatkan oleh orang – orang di negerinya.
            Tulisan – tulisan yang dikutip berasal dari jaman beberapa abad Sebelum Masehi sampai abad kesembilan belas dan tokoh – tokoh yang antara lain disebut adalah Herodotus (Yunani) yang telah menulis tentang Mesir kuno. Tacitus (orang Romawi) yang telah menulis tentang kaum biadab di Eropa Utara. Disinggung juga tentang seorang sarjana Islam yang menonjol, Ibnu Khaldun.







BAB IV
Teori dan Metoda Antropologi Budaya
            Sejak 100 tahun yang lampau, para peminat mengenai kebudayaan dan masyarakat lain sadar bahwa jika mereka mau menghasilkan karya yang bernilai ilmiah, maka mereka melakukannya secara sistematis dan melalui observasi yang tidak berat sebelah seperti yang dilakukan oleh ilmuwan – ilmuwan di bidang lainnya. Dengan kata lain, para ahli antropologi mulai melaksanakan penelitian lapangan.
            Sebelum mengadakan penelitian lapangan, seorang ahli antropologi tentu sudah mempunyai gambaran mengenai hal – hal apa yang hendak dipelajarinya. Pandangannya mengenai pokok yang akan ditelitinya, tidak pernah bersifat netral, tetapi selalu dipengaruhi oleh orientasi teori yang dianutnya. Telah banyak sekali teori – teori yang dihasilkan oleh berbagai ahli antropologi dan para pemikir pada umumnya, yang mengendalikan penjelasan – penjelasan tertentu mengenai gejala – gejala budaya.
            Jenis – jenis penelitian dalam antropologi budaya dapat diklasifikasikan menurut dua kriteria : 1) Menurut cakupan “ruang” dari penelitian itu yaitu analisa dari satu masyarakat saja, analisa dari beberapa masyarakat dalam satu kawasan atau analisa dari suatu sampel masyarakat seluruh dunia. 2) menurut cakupan waktu yaitu penelitian sejarah dan yang bukan sejarah.



BAB V
Organisasi Sosial :
Struktur Masyarakat
            Organisasi sosial mencakup pranata – pranata yang menentukan kedudukan lelaki dan perempuan dalam masyarakat dan dengan demikian menyalurkan hubungan pribadi mereka. Kategori ini pada umumnya dibagi lagi dalam dua jenis atau tingkat pranata – pranata, yaitu pranata yang tumbuh dari hubungan kekerabatan dan pranata yang merupakan hasil dari ikatan antara perorangan berdasarkan keinginan sendiri. Struktur – struktur kekerabatan mencakup keluarga dan bentuk kelompok yang merupakan perluasan keluarga seperti suku atau klan. Ikatan di antara orang yang bukan kerabat melahirkan banyak macam bentuk pengelompokkan mulai dari persaudaraan sedarah dan persahabatan yang dilembagakan sampai ke berbagai macam perkumpulan rahasia dan bukan rahasia.









BAB VI
Penelitian Lintas Budaya Mengenai
Kepribadian
            Seorang ahli antropologi percaya, bahwa para warga dari suatu masyarakat yang sedang dipelajarinya, memiliki ciri – ciri kepribadian bersama, yaitu apa yang dikenal dalam antropologi budaya sebagai jenis kepribadian dasar, basic personality structure, atau kepribadian rata – rata, modal personality.
            Dalam mengamati perilaku, berguna sekali untuk mengingat bagaimanakah perilaku warga masyarakat lain dalam keadaan yang sama. Dengan demikian akan  terlihat perbedaan yang mencolok. Dimana diadakan perbandingan antara tingkah laku anak – anak Bali dengan anak – anak latmul. Anak Bali dihadiahkan sebuah boneka dan begitupun anak latmul. Anak Bali itu tidak bersedia menerima boneka itu, ibu dari anak itu menggunakan boneka itu untuk memperolok anaknya dengan seolah – olah menyusukan anak itu, dan tindakan itu menimbulkan rasa cemburu pada anak tadi. Sedangkan anak latmul dengan tenang bermain – main dengan boneka di samping ibu mereka dan ibu mereka tidak mengolok – olok anaknya.
            Dari perbandingan diatas nampak perbedaan atas perilaku anak – anak yang sesuai dengan pola khas – khas yang terdapat dalam kebudayaan itu.




BAB VII
Antropologi Terapan
            Dalam ilmu antropologi budaya sebagai ilmu murni yang hendak dikejar adalah bagaimana dapat memahami gejala – gejala budaya, bagaimana menemukan penjelasan mengenai variasi – variasi yang ada dalam pola budaya manusia di berbagai pelosok dunia. Untuk itu telah berkembang sejumlah teori dan dalam penelitian lapangan berbagai teori diuji. Kemudian sebagian para ahli antropologi juga yakin bahwa akhir – akhirnya dapat juga dirumuskan beberapa keteraturan, yang menyerupai hukum, yang menguasai kebudayaan.
Di samping menjadi ilmu murni, hasil – hasil dari ilmu ini juga hendak diterapkan, yaitu untuk digunakan dalam pemecahan masalah – masalah yang dihadapi oleh manusia.
Kode etik dalam antropologi terapan muncul dari pemikiran para ahli antropologi karena menurut mereka dengan berkembangnya ilmu antropologi, teknologi yang makin maju dan segi negative dan positif yang secara potensial akan mengakibatkan perubahan berarti pada mereka atau merusak kebiasaan pada mereka.






BAB VIII
Siklus Hidup
            Kehidupan warga Padju Epat adalah salah satu gambaran siklus hidup atau lingkaran hidup. Seorang individu mempunyai peranan – peranan dalam suatu kebudayaan, upacara – upacara yang khas dalam kebudayaan itu, dari kedua hal tersebut tampak menggambarkan organisasi sosial.
            Cara pertanian orang Padju Epat adalah berkebun atau berladang secara bergilir. Mereka tidak mengenal pertanian sawah. Sesudah sebidang tanah dibuka dan kemudian dikerjakan, maka sesudah beberapa kali panen padi, ladang itu ditinggalkan. Beberapa tahun kemudian, sesudah tanah tersebut sudah dianggap cukup subur, kemudian dikerjakan lagi.
            Jenis kelompok – kelompok kekerabatan yang ada, cara pemukiman memiliki sifat – sifat khasnya sendiri. Dalam karangan yang terlampir, istilah – istilah setempat digunakan untuk menunjuk kepada kelompok – kelompok kekerabatan yang ada dan disini penjelasan mengenai kelompok – kelompok itu akan disarikan dari buku Padju Epat.
            Kelompok kekerabatan yang terkecil yang dalam istilah antropologi budaya biasa dinamakan keluarga inti atau keluarga nuklir dapat disamakan dengan apa yang disini dinamakan keluarga dangau. Dangau adalah pondok, atau rumah ladang yang terletak di dekat ladang yang dikerjakan oleh suatu keluarga dan yang menjadi sumber utama dari penghasilan mereka.


BAB IX
Kerabat dan Bukan Kerabat
            Berdasarkan penelitian T.O. Ihromi yang telah dilakukan di Tapanuli dan Sumatra Utara dalam hubungan dengan proses penyesuaian yang dialami oleh orang Batak Toba ketika berimigrasi dari daerah asalnya ke kota besar. Dalam situasi yang baru di kota Medan, orang Batak Toba harus menempatkan dirinya dalam suatu tatanan baru. Di desanya dia hanya berhubungan dengan orang asal satu suku dengan dia, dan kecuali beberapa stereotrip mengenai golongan etnis lainnya seperti stereotip mengenai orang Jawa, orang Minangkabau dan lainnya. Dia tidak mempunyai pengalaman bergaul dengan orang bukan orang Batak. Dalam situasi kota suatu sistem kategorisasi yang bermakna bagi orang Batak Toba itu perlu dibinanya, dan yang terjadi adalah membedakan semua orang dalam kelompok yaitu “orang kita” dan “bukan orang kita”. Orang kita yaitu orang Batak Toba, secara potensial adalah kaum kerabat, sehingga dua kelompok besar itu adalah orang – orang yang mempunyai hubungan kerabat dan mereka di luar itu yang tidak ada kaitan kerabat dengan orang Batak Toba.
            Semua orang Batak Toba membubuhkan nama marga bapanya di belakang nama kecilnya. Marga adalah kelompok kekerabatan yang meliputi orang – orang yang mempunyai kakek bersama, atau yang percaya bahwa mereka adalah keturunan dari seorang kakek bersama menurut perhitungan garis patrilinieal (kebapaan). Anggota dari satu marga dilarang kawin; marga adalah kelompok yang eksogam. Jadi semua orang yang semarga adalah orang yang berkerabat dan dengan orang lain marganya dapat dicari juga kaitan kekerabatannya. Orang luar atau bukan kerabat dipersepsikan sebagai suatu golongan besar yang tidak dibeda – bedakan, sehubungan dengan pengalaman – pengalaman pergaulan sosial, hubungan pekerjaan dan hal – hal lain yang dapat dianggap sebagai salah satu indikator dari derajat kemodernan lambat laun mengalami penghalusan dan satuan besar yang tadinya kabur itu disadari oleh orang Batak Toba sebagai golongan – golongan yang berbeda – beda.

















BAB X
Lukisan Anak – anak di Bali
            Kesenian Bali memiliki corak dan wataknya sendiri. Seniman – senimannya banyak dan karyanya banyak. Sifat mereka sangat menonjol karena kesabarannya dan efisien dalam keahliannya dan sangat setia kepada tradisi kesenian di tempatnya. Berbeda dengan seniman – seniman barat mereka kelihatannya mencoba menghasilkan karya yang sejauh mungkin sesuai dengan pola – pola yang juga dipergunakan sesame seniman. Sifat khas dari seorang seniman tidak diutamakan, sebagaimana halnya pada seniman Barat, malah mereka menekankan justru yang sebaliknya. Kalau misalnya ada karya yang menampilkan citra yang luar biasa, hal yang sangat orisinil, maka kelihatannya hal tersebut terjadi karena sang seniman tersebut memiliki bakat yang luar biasa. Hal tersebut terjadi bukan akibat kesengajaan, tetapi malahan masih muncul walaupun si seniman telah berusaha untuk menghasilkan karya yang serupa dengan karya – karya orang lain. Dalam semua aspek seni rupa di Bali, seni lukis, seni ukir, dalam merencakanan gambar wayang untuk wayang kulit dan mengukir topeng – topeng, keserupaan dengan bentuk tradisional sangat jelas tampaknya.
            T.O. Ihromi mengumpulkan 20 orang anak laki – laki di Bali yang berumur antara 3 sampai 10 tahun. Anak – anak itu sengaja dikumpulkan diberi alat – alat melukis dan disuruh melukis pada saat mereka ingin melakukannya. Anak – anak itu penghuni desa Sajan, kabupaten Gianyar. Anak di Bali sejak kecil sudah tergantung pada kondisi kebudayaannya, dia mempelajari arti dari lambang – lambang kebudayaannya, dia belajar untuk membiasakan sikap yang khas terhadap kesenian. Bila telah menjadi dewasa maka dia akan menjadi seorang Bali yang menghasilkan karya kesenian dan menjadi peminat yang menghargai kesenian, karena di Bali, kesenian bukanlah urusan dari beberapa gelintir orang saja, melainkan menjadi milik setiap orang.



















BAB XI
Anak – anak dalam Keluarga
            James T. Siegel mengamati mengenai cara seorang anak dibesarkan di desa yang terdapat di Aceh dan gagasan – gagasan yang berbeda mengenai bagaimana membesarkan anak laki – laki dan anak perempuan. Salah satu contoh  hasil yang didapat dari penelitiannya adalah menjelang masa pubertas anak laki – laki hanya ada dirumah jika ada sesuatu yang perlu dilakukan, seperti makan, ganti pakaian atau kalau mereka dibutuhkan untuk suatu pekerjaan tertentu. Sama seperti bapa, mereka juga tidak pernah terlalu lama berada di rumah. Sebelum akil balig, anak laki – laki tidak mempunyai tugas rumah tangga. Tetapi kalau sudah dewasa, ibunya dapat memintanya ikut membajak atau melakukan pekerjaan lain yang biasanya merupakan tugas pria.
            Sedangkan di pihak perempuan. Masa peralihan dari anak perempuan menjadi wanita dewasa tidak ditandai oleh tahapan yang sama. Anak perempuan juga belajar membaca Qur’an dan padanya diajarkan ritus – ritus yang kemudian hari diperlukan pada waktu mereka mendapat haid dan setelah hubungan kelamin, tetapi latihan yang mereka jalani tidak terlalu ketat sifatnya. Latihan mereka mulai pada usia yang lebih tua, yaitu kira – kira pada umur 8 tahun. Pelajaran agama bagi mereka tidak diberikan di bangunan yang khusus tetapi di rumah salah seorang wanita yang mampu mengajar mereka.



DAFTAR PUSTAKA

Ihromi, T.O. (2000). Pokok Pokok Antropologi Budaya. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia

1 comment:

  1. How To Win at Casino Gambling | Expert Guide
    You can find a range of the different 인천휴게텔 casino games you can 탱글다희 정지 enjoy 돈포차 online. With an 아트그라비아장주님 extensive range of games 모바일 벳 365 to choose from and a multitude of bonus options

    ReplyDelete